The State of Thousand Why’s

Pada masa lalu, banyak kegagalan hidup musisi yang disebabkan oleh musisi itu sendiri. Begitu seringnya terulang, sehingga seolah-olah menjadi sebuah tesis praktis. Jadi kayak mmmm… Pakem! Ya, pakem atau mungkin seperti sebuah kebiasaaan dan anggapan umum; bahwa menjadi musisi rock itu ngga akan menghasilkan! Gua baru sadar, ketika masih jadi pemain band rock, bahkan gua sendiri sering hidup dengan pakem itu. Tapi memang, tak jarang pula gua mempertanyakannya dan mencoba menguji bahwa itu tidak benar. Semakin kesini, pertanyaan itu semakin berkecamuk di kepala dan mengganggu. Hingga suatu hari, gua bertekad untuk menjawab pertanyaan itu dengan mendirikan sebuah organisasi.

Gua mengajak teman-teman percaya yang sama-sama tidak percaya sama pakem tadi. Dan mengajukan pertanyaan kepada mereka seperti; apakah kamu percaya bahwa musik rock itu bisa jadi sesuatu? Jika tidak kenapa? Jika ya kenapa dan bagaimana cara mewujudkannya? Dan bersama-sama kami rangkai seribu satu kenapa lainnya. Satu per satu kami daftarkan dan tanpa sadar mulai melakukan kegiatan-kegiatan sambil berusaha menjawab kenapa-kenapa itu. Some sort of trying to know what our core ideology is by keep doing it. Akhirnya, sedini mungkin kami juga mulai tahu, bahwa keinginan kami yang paling dalam adalah ingin berada disini, dan ikut berkontribusi untuk mensejahterakan musik rock yang berarti termasuk segala sesuatu yang ada di dalamnya. Ya, tentunya kami sendiri pun masuk di dalamnya.

Kegiatan awal kami adalah mendirikan organisasi laba yang memiliki konsep kewirausahaan strategis, dan menjalankan fungsi-fungsi manajemen. Setelah berjalan, kami jadi semakin fokus dan semakin hanyut dalam kegiatan kami. Kenyataannya? Kami menghasilkan uang, bukan uang yang berlimpah, mungkin belum. Tapi yang terpenting adalah bahwa kami mendapat kesempatan untuk tumbuh. Dan hal tersebut memberi kami kekuatan besar untuk tetap percaya akan apa yang kami percayai sejak awal.

Setelah berjalan, kami mulai berpikir untuk tumbuh terus, mulai muncul kenapa-kenapa yang baru. Kenapa-kenapa operasional. Kenapa crew ngga konsisten, kenapa sulit mencari modal pertumbuhan, kenapa ada kendala distribusi dan lain-lain. Kami mendaftar lagi kenapa-kenapa tersebut, sampai kami menemukan jawabannya dan kembali menjalankan kegiatan berdasarkan jawaban-jawaban bagaimana, yang kami dapat.

Sementara menjalankan dan mengusahakan pertumbuhan, kami merasa bahwa kami perlu untuk mulai memikirkan sebuah tahapan puncak, yaitu kemakmuran dan establishment. Dalam konteks sebuah perencanaan strategis. Ya, muncul lagi kenapa-kenapa yang baru, kenapa musti makmur dan establish? Well, sebenernya karena itu adalah tujuan kami mendirikan organisasi ini.

Artikel ini bukan untuk mengatakan bahwa mempertanyakan kenapa kami ada itu buruk. Atau bahkan bahwa pencapaian terbesar kami adalah keberhasilan kami untuk menjawab pertanyaan kami sendiri (in fact we do!). Dengan selalu mempertanyakan kenapa begini dan kenapa begitu, kami akan terus menerus berada di zona ketidaknyamanan yang tidak mapan di tahap manapun kami berada. Baik itu start up, growth, maupun mature. Dan itu yang membuat kami akan terus menerus berusaha, sampai kami tidak perduli lagi apakah kami akan berhasil atau tidak. Ya memang sebuah visi idealistis, tapi semakin kesini kami memang tidak perduli lagi jika kami tidak berhasil membuktikan apa-apa. Pada dasarnya, kami hanya ingin tetap ada disini, berkontribusi atas hidup kami dan teman-teman kami, bertanggung jawab atas pilihan kami, dan menjalankan ideologi inti kami.

Ya sudah, mari bersulang!

- March 2005 -

Uncategorized

Jika kamu suka artikel ini, mohon memberikan komentar dan berlangganan newsletter gratis dan dapatkan update ke feed reader atau ke email.

Komentar dan Diskusi

No comments yet.

Tinggalkan Komentar kamu Disini

(required)

(required)