Teroris Kleng!
Suatu weekend malam di tahun 2002 saya sedang nyantai di kamar kos di sekitar Segara, Kuta Bali. Tau-tau terdengar suara ledakan keras dan disusul dengan mati lampu. Saya keluar kamar dan diluar, warga sekitar sudah pada keluar juga, cenderung panik. Karena ingin tahu, saya ambil motor dan langsung gabung dengan kerumunan orang-orang yang mengarah ke jalan Legian.
Di Bemo Corner, di ujung jalan Legian, terlihat hamburan orang melawan arah kerumunan, beberapa dari mereka menangis bahkan badan dan kepalanya mengucurkan darah. Sekonyong-konyong ada teriakan, ‘ada bom bli!!’ Saya langsung panik. Saya langsung putar arah menuju kos-kosan temen, tempat kami anak-anak rantau biasa kumpul. Dari sana kami melihat kobaran api yang tinggi dari arah Legian. Bingung, shock, takut dan segudang rasa aneh yang saya belum pernah rasakan. Dari radio kami mendengar jumlah korban meninggal yang ditemukan terus meningkat setiap menitnya dan sangat jelas, raungan sirine ambulans yang terus tak henti memecah keheningan malam itu, dan tidak berhenti hingga pagi. Akhirnya, menjelang pagi, kami bisa tidur. Tidur diselimuti rasa dan pikiran acak-acakan.
Sampe sekarang saya ingat banget bagaimana perasaan saya malam itu. Saya terlalu sedih sampe ngga bisa benci lagi sama pihak-pihak yang membom Sari Club dan Paddies. Apapun alasannya mereka berbuat, saya lihat banget semua orang jadi korban, baik yang mati, yang luka maupun yang hanya melihat dan mendengar. Perang macam apa ini? Saya jadi ingat perkataan Albus Dumbledore, pemimpin sekolah sihir tempat Harry Potter dkk bersekolah, ‘it is not our abilities that show what we truly are, it is our choices’. Ya, penjahat di film Harry Potter juga pintar, berbakat, dan memiliki keahlian sihir yang sangat tinggi (abilities), tetapi karena pilihannya menjadi penyihir jahat (choices), dia menjadi tokoh yang mengganggu kehidupan manusia.
Weekend kemarin bom itu meledak lagi di tempat umum. Saya tahu banget rasanya makan sea food khas Bali di cafe Jimbaran, saya tahu rasa nyaman jalan-jalan di seputar Kuta Square. Perasaan yang didapat saat berada di kedua tempat itu tentunya ngga nyambung jika ditambah dengan bom bunuh diri. Karena tempat-tempat itu adalah salah satu tempat terbaik di dunia untuk merayakan hidup.
Saat ini saya ngga bisa berbuat apa-apa. Tapi saya ingin mengucapkan turut berduka cita kepada masyarakat Bali atas bom yang meledak di Jimbaran & Kuta Bali, Sabtu 1 Oktober 2005. Our prayer goes out to the dead victims and survivals. Sure, we will pass this tragedy. Like always, we will win the war. Ya bli, TERORIS KLENG!
- Robin Malau, Oktober 2005 -
Jika kamu suka artikel ini, mohon memberikan komentar dan berlangganan newsletter gratis dan dapatkan update ke feed reader atau ke email.

Komentar dan Diskusi
No comments yet.
Tinggalkan Komentar kamu Disini