Rocker Juga Wirausaha
Pernah ngga di omongin begini ngga sama orang tua, pacar atau orang-orang dekat lainnya; ‘Kamu teh ngapain atuh main band kayak gitu, ngga jelas, ngga akan menghasilkan kamu teh atuh gigituan…’, pernah? Gua pernah. Thousand times!! Tapi apa yang gua lakukan sampai sekarang? Main-main sama band rock terus. Kenapa? Simpel, karena gua harus melakukan ini.
Gua terkejut dan sangat senang, waktu gua mengikuti kuliah seorang profesor terkenal. Salah satu mata kuliah manajemen kewirausahaan. Beliau memberikan kuliah, yang mana prosedur-prosedur dan teori-teorinya mendukung sikap gua akan hidup gua selama ini; cara gua berpikir, memandang, merasakan dan menjalankan hidup. Di lapangan, selama bertahun-tahun gua sudah menjalankan semua yang beliau ajarkan. Ternyata, bahkan pada masa gua main band, gua sudah menjadi wirausahawan. Beberapa esensi memang terlewat, makanya dengan study dan mencari pengalaman bekerja di perusahaan besar, gua berharap mendapatkan pengetahuan tambahan akan manajemen; sehingga, seorang wirausahawan yang harus bisa menggabungkan fungsi otak kiri dan kanan secara seimbang (wholebrainer) bisa terbantu terlaksana. Ngga sekedar kreatif tak terarah. Managerial entrepreneur namanya. An****, seumur hidup gua mencoba mencari pembenaran atas apa yang gua percaya, baru sekarang gua menemukannya. At least gua study graduate program, dan mungkin orang-orang akan lebih percaya bahwa gua bisa.
Sejak pertama kali bermain band, mental gua sudah terbentuk bahwa gua mengerjakan semua itu bukan karena uang. Sampai sekarang, gua menjalankan sebuah perusahaan dan mental gua tetap sama, melakukan apa yang gua suka. Jadi landasan berpikirnya adalah; gua harus melakukan ini. Uang akan datang belakangan, jika gua bekerja dengan benar.
Ya ga bisa dilupakan constraint budaya. Masyarakat sini masih melihat menjadi pegawai itu sebagai cita-cita. Orang tua menasihati anaknya, nanti kalau kerja cari yang gajinya besar, ada pensiunnya, hidup tenang. Landasan semangat bekerja sebagai pegawai itu adalah soal keamanan. Sementara landasan berupaya sebagai seorang wirausahawan adalah kesempatan. Masalah bahwa sang wirausahawan itu menjalankan good corporate governance (perusahaan sehat yang ngga hanya mencari uang saja) ya itu balik ke dia sendiri, dia mau bawa kemana usahanya tersebut.
Terakhir, selama bertahun-tahun gua sering terbawa untuk berpikir bahwa gua memilih untuk melakukan semua ini. Sebenernya ini bukan pilihan, tetapi gua memang harus melakukan ini untuk hidup gua. Godaan untuk berhenti akan selalu ada, misalnya orang-orang dekat gua yang terus menerus menasihati agar gua bekerja saja dan menjadi aman. Ada satu yang suka dilupakan orang. Masalah waktu. Kalo kita berupaya terus belajar, yang ngga mungkin pun mungkin terjadi. Well, dalam hati selalu gua tekankan; jika gua tidak berhasil hari ini, bukan berarti gua bukan rocker yang wirausahawan, tetapi hanya masalah waktu. Ya, salah satu syarat wirausaha adalah pantang menyerah. In the mean time gua harus berusaha dan bekerja keras. Untuk apa juga gua bekerja di tempat lain, jika suatu hari gua harus keluar lagi untuk mendirikan usaha sendiri? Seperti Ozzy Osbourne bilang; ‘what a great way to make a living…!’
Fuck ya!
-November 2004-
Jika kamu suka artikel ini, mohon memberikan komentar dan berlangganan newsletter gratis dan dapatkan update ke feed reader atau ke email.

Komentar dan Diskusi
No comments yet.
Tinggalkan Komentar kamu Disini