Music Business Is a Fucking Tough Business!

Sumber: Samack’s MySpace page. I was just trying to look smart, ok :-).

Ketika sebuah konspirasi terbentuk oleh akumulasi ide, nafsu dan kegeraman akan fenomena musik di Indonesia. Maka rencana disusun, dengan disertai gerak nyata plus kenekatan yang membidani lahirnya sebuah institusi pengembang seni bernama Soda Music Company. Sang direktur, Robin Malau, menjelaskan semua buih-buih mimpi dan kerja keras mereka yang mulai merambat naik ke bibir gelas hingga menumpahi seluruh ‘permukaan meja’ musik rock lokal. Sensasi yang mereka kerjakan di Soda adalah hal yang masih jarang untuk khazanah permusikan di sini. Dan sejak awal mereka sudah sangat yakin kalau buih-buih itu suatu saat bakal menjadi lautan!…

Hai Rob, tolong ceritakan ide awal kamu membentuk Soda Music Company?
Setelah band saya bubar, saya pergi cari pengalaman bekerja di perusahaan besar. Saya beruntung mendapat tempat di perusahaan multinasional yang cocok sama saya. Perusahaannya kreatif. Mereka adalah sekumpulan seniman yang punya organisasi formal, yang mengejar mimpi dengan bekerja sangat keras. Point-nya itu, saya pemimpi dan saya pekerja keras. Selama ini, saya mencintai satu hal, rock band, dan sejak lama saya memutuskan untuk hidup di situ. Akhirnya saya berhenti bekerja dengan sebuah mimpi, saya ingin punya usaha sendiri. Suatu hari saya menemukan trigger, saya diajak Ebenk dari Burgerkill untuk handle band dia. Sekonyong-konyong saya melihat sebuah lukisan besar yang terbentuk dari ide-ide yang ada di benak saya. Saya ambil kesempatan itu, dan saya mengajak beberapa teman lama untuk bergabung mendirikan sebuah konspirasi.

Terus apa sebenarnya fokus usaha yang ditangani Soda?
Artist Management!… Intinya begini, kami di sini punya landasan hukum untuk mendirikan usaha. Holder yang terdaftar dan bertanggung jawab adalah CV Stoked. Nah di dalamnya itu ada merk Soda Music Company. di Soda sendiri ada dua jenis usaha, yaitu jasa dan produk. Di bidang jasa, kami punya Artist Management, Management Consultant dan Artist Agency. Sedangkan di produk, kami punya Music Records, Music Merchandise dan Music Publication. Well, pada dasarnya core business-nya adalah Artist Management. Fokus kami adalah bisnis jasa, yaitu menyalurkan potensi band. Bands yang kami suka musiknya. Kami berusaha mendatangkan uang untuk mereka tanpa kehilangan grass roots, mereka bisa besar dan nggak selling out. Nah, walhasil kami pun jadi sering kelabakan, misalnya karena idealis, band sering nggak dapet panggung, ya jadi kan nggak punya pemasukan. Dari situ kami memutuskan untuk memulai bisnis produk karena kami butuh cash flow, butuh aliran kas yang lebih pasti. Jadi saat-saat lousy pun kami masih bisa bertahan. Ada rantai ekonomi panjang yang harus kami perjuangkan; band, crew, sound engineer dan banyak lagi. Walhasil kami membuka unit-unit bisnis lain yang bisa membantu unit bisnis utama.

Jadi kamu berani cabut kerja dari korporat besar gara-gara ‘feeling sucks’, terus bersikeras bikin Soda ini?!…
Bukan sombong atau menjadi pengeluh, tapi saya terlalu idealis untuk kerja di perusahaan lain atau bahkan bidang usaha lain. Sekarang saya sudah punya perusahaan sendiri, perusahaan pemasaran musik rock. Saya dan teman-teman saya fully in control di sini. Kami sendiri yang menentukan nasib kami. It’s like heaven, this is what we love to do…

So you decided Soda as your main activities and got profits from there?
Ya, hidup itu harus fokus. Usaha apa aja asal fokus dan keukeuh, akhirnya pasti jadi. Kalau udah gitu tinggal masalah waktu. Sekarang saya studi ambil program master bisnis, di situ diajarin bagaimana untuk mendapat hasil optimal dalam waktu yang se-efisien mungkin. Saya tentunya, ingin dapet profit dari Soda tapi sampai sekarang belum dapat. Kami ini idealis sehingga keputusan berinvestasi seringkali nggak business based. Belum lagi kami harus bayar pajak dan bunga pinjaman, udah gitu kami juga dikejar-kejar depresiasi aset. So everything should be kept in order. Kalo gak, akan sangat mudah terjerembab. Gak mudah, jadi kami nggak mau main-main…

Tapi biasanya berbisnis di dalam scene khan kerap dicibir ‘orang-orang dalam’ juga…
Well, sebenernya sudah banyak yang ‘berbisnis’ di sini tapi gak ngaku, gak terus terang seperti Soda! Kita sih cuek aja, memang kita di sini mencari sesuap nasi, sama seperti mereka. Saya punya mimpi untuk bikin scene ini menjadi sebuah industri. Dalam pengertian, pelaku industrinya adalah scenester sendiri. Anyhow saya melihat skateboarder dan surfer profesional. Mereka bahagia. Mereka melakukan apa yang mereka suka dan dibayar layak. Mengapa saya tidak bisa? Dan menjadi apapun saya, itu adalah hak saya untuk memilih. Saya ingin tetap menjadi rocker seperti sekarang dan saya ingin hidup layak. Awalnya banyak yang mencibir, apaan tuh artist management dll… Band banyak yang alergi sama manajemen karena banyak kasus manajer bawa kabur duit band dan kasus-kasus sejenis. Banyak manajer yang cule. Itu karena band tidak mengerti manajemen dan manajer tidak perduli sama band. Akibatnya hubungan mereka jadi gak punya arah, asal jalan aja. Asal dapet panggung, dapet duit sedikit udah puas. Sepertinya kerjaan udah beres, padahal jika ingin ‘berbuah’, ya harus kontinyu. Soda enggak seperti itu. Kami di sini kerja, dengan menjalankan konsep berkesinambungan. Kami ingin mendapat respek dan kepercayaan dari band kami sendiri, seperti kami respek dan percaya sama mereka. All in all, saya juga menghormati scene because i am a scenester myself. Saya sudah ada di sini sebelum ada yang percaya bahwa musik underground itu bisa menjadi ’sesuatu’. Orang sudah datang dan pergi, tapi saya tetap di sini!…

Bagaimana rasanya menempatkan band yang notabene temen-temen kamu sendiri sebagai klien yang menggunakan jasa Soda?
Good question. Basically ini adalah bentuk respek saya sama temen-temen saya. Saya mulai dari lingkungan kecil, yaitu teman sendiri. Kami semua di sini punya komitmen. Kami harus bijak dalam mengatur saat berteman dan saat berbisnis. Pada awalnya sulit, banyak bentrok budaya. Biasanya karena teman jadi banyak gak enaknya. Tapi kami berusaha keras di sini. Sudah jelas teman-teman saya se-visi dengan saya, kenapa musti repot cari teman yang gak se-visi dan memulai lagi dari awal? Saya gak mau kehilangan kesempatan itu. Kami semua di sini mengejar visi yang sama, that’s the good thing of being a company of brothers…

Benarkah anggapan bahwa salah satu kelemahan utama band independen di sini adalah di sektor manajemen?
Lebih dalam, kan sebenernya band itu jika dikelola serius menjadi seperti layaknya sebuah organisasi. Organisasi itu kan bergerak, bersosial, berkembang dan harus bertahan. dan akhirnya akan tercipta beberapa fungsi yang harus terintegrasi. Dua fungsi utama band adalah pertama, fungsi artistik. Band, dengan pertimbangan tertentu, adalah penentu visi dan misi artistiknya. Kedua, fungsi manajemen. Manajer membantu band untuk menjabarkan tujuan, merencanakan, mengorganisasikan, mengawasi dan ikut menasihati band, agar seluruh kegiatan yang sudah dijabarkan tadi dapat terlaksana dengan efisien dan mencapai tujuannya dengan efektif. Fungsi manajemen paling simpel yang bisa kita temui sehari-hari adalah badan kita. Ada tangan, kaki, mata, perut dan lain-lain. Jadi dengan adanya manajemen, kita bisa melakukan kegiatan-kegiatan kita dengan lebih sistematis. Dalam sebuah organisasi, manajemen itu sebuah keharusan…

But some people said that’s industry, bussiness and management could makes these scene going more complex, difficult, sensitive n’ another negative think theres…
Hehe, itu mah orangnya aja gak mau susah. Yang pasti mah, hidup itu harus berkembang. Berkembang dalam arti kita harus bisa secara terus menerus mengerjakan hal-hal yang lebih menuntut tanggung jawab yang lebih tinggi dan menjadi lebih baik dari hari ke hari. Misalnya hari ini kita belajar tambah-tambahan, masa besok di ulang? Ya naik dong, misalnya belajar pengurangan, abis itu perkalian, besoknya lagi pembagian, besoknya pengakaran dan seterusnya. Menurut saya, bermusik juga begitu. Hari ini belajar kunci C sampai C oktaf berikutnya, sesudah itu belajar membuat lagu, terus masak cuma buat doang? Mau diapain? Ya dijual! Ketika lagu mulai laku dijual, kok sepertinya ngga kerasa hasilnya, uangnya kemana semua? Ya itu dia, di-manage, dicatat, biar bisa ada planning ke depan mau bagaimana. Jadi gak cuma gitu-gitu aja. Tau-tau udah tua baru sadar, perasaan main musik begitu lama kok gak menghasilkan apa-apa, banyak kejadian seperti itu. Udah gitu marah-marah terus berhenti main musik. Bertambah kuatlah pakem bahwa main musik itu gak ‘menghasilkan’, ya iya wong cuma asal-asalan…

Eh, soal dealing-nya Rocket Rockers ke label Sony apa Soda juga ikut berperan?
Begini, saya melihat anak-anak ini punya talenta terpendam. Dulu, waktu belum ada yang melirik mereka, saya menggadaikan leher saya di Volcom, saya bilang sama boss saya bahwa anak-anak ini punya sesuatu dan mereka harus diberi support. Waktu berjalan terus dan Rocket Rockers butuh support lebih besar dan intensif untuk bisa berkembang secara musikal. Setelah yakin bahwa mereka memang hanya butuh kesempatan dan waktu. Maka saya memberanikan diri untuk maju membawa mereka ke label besar, dan Sony Music adalah label yang berani signed sama mereka. Sekarang, sedikit demi sedikit Rocket Rockers sudah mulai bisa membuktikannya. Kuncinya adalah bahwa anak-anak ini berani untuk fokus dan komit, mereka berani mengambil resiko dan mau bekerja keras. Jika suatu saat mereka sukses besar, itu karena mereka memang punya mimpi dan punya kemauan untuk mengejarnya.

Mungkin dengan fenomena ‘indie goes major’ yang makin marak belakangan ini jadi bukti bahwa masih sedikit label indie yang mampu mengangkat band ke tingkatan karir yang maksimal. Sehingga sebagian band lebih percaya kepada major untuk karir yang lebih berkembang dan well-published…
Emangnya gampang membawa band ke puncak prestasinya?! Music business is a fucking tough business!… Orang-orang yang terjun di bisnis ini, kalo salah jalan bisa menjadi miskin dan pemarah. Tapi awalnya harus dari band-nya sendiri ingin jadi apa. Point-nya adalah bagaimana sebuah band bisa melihat sesuatu di depan sana, yaitu sesuatu yang bisa dicapai dengan bantuan pihak tertentu, yang memang punya pengetahuan dan pengalaman, punya SDM dan punya kapital yang cukup. Tapi kan bukan berarti kita harus terus-menerus bergantung sama orang lain. Banyak contoh band sukses di independen setelah lepas dari major label, di lain pihak ada yang memang sudah nyaman untuk stay di major atau di indie…

Enjoy The Process, Pushing The Limit, Being Different, Workhard!… Aku sangat suka kalimat-kalimat anda itu di setiap newsletter Soda. Apa itu mencerminkan hal-hal yang belum dimiliki oleh scene kita saat ini?
Sebenernya itu kan varian-varian suksesi hidup. Itu dia perbedaan I’m Stoked dengan publikasi lain. Di situ kami berbicara tentang hidup. Kami ini organisasi yang karib dan mempunyai visi dan misi tunggal yang kuat. That’s our competitive advantage compare to other similar organization. Musti diingat bahwa kami di sini gak sekedar ugal-ugalan, tapi bahkan kami mungkin bekerja lebih keras daripada band manapun di Indonesia! Jika seorang manusia memiliki bakat musikal dan memiliki mimpi, maka wujudkanlah impiannya. Bahkan yang terasa tidak mungkin sekalipun!… Dan pada akhirnya dia berhak untuk menjadi musisi sukses. Mudah? tidak ada yang mudah dalam hidup ini. Bahkan lari dari kenyataan pun sulit. No way to run, no place to hide. Kami harus tetap hidup, meskipun kami hanya ingin menjadi seorang rockstar!

Seperti Taking Over The Mainstream?!… Hahaha, so what the fuck of it?
Itu humor. Humor sinis! Soda itu penghayal yang sinis, tapi humoris. Ketika band-band seperti kami masuk ke dunia mainstream, terasa benar bahwa kami membawa perubahan di dunia mereka. Kami masuk ke dalam dunia mereka dan kami tidak pernah berubah. It’s an ego and it’s our nature beauty…

Well, sepertinya Soda adalah sebuah contoh yang baik untuk upaya mengembangkan scene…
Thanks. Soda berkumpul untuk bekerja. Salah satu kelebihan kami dalam mengelola band adalah memasukkan pemikiran dari sisi musisi sebagai varian untuk pengambilan keputusan. Saya sendiri orang lama di band dan semua staf soda music juga bukan orang baru. Saya merasa sukses karena visi jangka pendek kami berhasil dicapai; yaitu mendapat kepercayaan dari band yang kami kelola. Sekarang kami sudah mulai berharap untuk bisa dipercaya mengerjakan lebih banyak proyek lagi. Tahap pencapaian visi pertama berhasil kami lalui. Kami harus merancang lagi masa depan dan target baru. Nah, berarti kan sekarang kami mulai lagi di step berikutnya dan di situ kami jadi anak bawang lagi. It’s a neverending cycle. Dalam siklus seperti itu, kami sering mendapatkan diri kami ini berhasil maupun gagal. Tapi yang pasti kami ingin bertahan di sini…

[Samack]

Uncategorized

Jika kamu suka artikel ini, mohon memberikan komentar dan berlangganan newsletter gratis dan dapatkan update ke feed reader atau ke email.

Komentar dan Diskusi

No comments yet.

Tinggalkan Komentar kamu Disini

(required)

(required)