I’m Still Married to Satan
Hari ini saya nanya sama temen di kantor. Eh boss, tahu ngga apa artinya loyalitas dan komitmen? Sebelumnya saya juga sudah bertanya sama teman-teman yang lain dan jawabannya sama, tidak tahu pasti. Well, sebenarnya, arti loyal adalah setia dalam susah dan senang, sedangkan komitmen adalah berjanji untuk melakukan dengan sebaik-baiknya. Simpel banget koq!
Itu yang diperlukan sebuah organisasi untuk tumbuh dan maju ke depan. Yaitu memiliki anggota yang memiliki loyalitas dan komitmen. Jadi pakem lama, bahwa manusia adalah aset terbesar organisasi itu sudah kurang cocok. Sadis dan Sangar man, tapi memang bener, saya setuju. That’s life anyway, yang lambat dan ngga fokus selalu menjadi penghambat yang lain yang ingin maju. Jadi, hanya orang-orang terbaik saja yang bisa menjadi aset kelompok, terutama di organisasi bisnis. It’s true, people is everything. But only the strong survive.
Ada konsep kepemimpinan organisasi yang dikemukakan seorang profesor di Amerika yang sangat menarik perhatian saya. First Who Then What. Awalnya saya bingung dan ngga setuju, tapi mengacu pada realita yang saya hadapi, akhirnya saya jadi sangat setuju. Katanya, jika ingin membangun organisasi yang berumur panjang, yang harus dilakukan pertama-tama adalah mencari orang yang pas untuk menjadi teman usaha. Setelah itu baru mencari, sebagai sebuah tim, apa yang musti dilakukan secara bersama-sama. Jadi, sebenarnya, sejauh apapun visi dan semulia apapun misi sebuah organisasi, jika orang-orang yang berada di dalam hanya mencla-mencle aja mah, visi dan misi tersebut tidak akan menjadi apa-apa. Hanya menjadi sebuah mimpi yang mutakhir dan mustahil.
Orang yang memiliki komitmen itu adalah orang yang telah berjanji untuk melakukan yang terbaik atas tugas dan wewenang yang diberikan. Jika dia menyelewengkan komitmennya dan menjadi seseorang yang tidak loyal, berarti sebenarnya dia hanya ingkar janji. Itu isunya. Simpel sekali ya? Tadi kita-kita sempat bahas. Wah boss, konsep loyalitas dan komitmen kan cuma segitu doang, mengapa sangat susah untuk melaksanakannya? Hmmm… Ngga juga. Mudah koq, kita ini cuma diminta untuk menikahi setan. Jadi ngga susah sebenarnya. Itu mah orangnya aja yang takut untuk berkomitmen, jadi dia tidak cocok berada di sebuah organisasi tertentu (dan ikut maju). Dia masih takut dan masih ingin mencla-mencle.
Hey man, sampai kapan kamu akan mengerjakan ini? Ya, kalau ditanya sampai kapan, saya juga ngga tahu. It’s not about pride, that i can do the best. It’s just the thing that i can do best. Jadi, saya akan mempertahankan komitmen untuk bertahan dalam pernikahan saya dengan setan dan mendampinginya dalam susah maupun senang. Meski terkadang tidak tahu kenapa.
Seperti kata temen deket saya “it’s just another fucking year”. Yes bro, we must good to go!
-Jan 2005-
Jika kamu suka artikel ini, mohon memberikan komentar dan berlangganan newsletter gratis dan dapatkan update ke feed reader atau ke email.

Komentar dan Diskusi
No comments yet.
Tinggalkan Komentar kamu Disini