God is Clerical
Era awal gua mulai suka musik rock, a long time ago, there was Black Sabbath, Kiss & ACDC. Gua suka enerji mereka, gua suka harmoni mereka, gua suka musik mereka, gua suka pesan mereka. Ah ngga sejauh itu sih, gua cuma tahu kalau gua suka sama mereka. I think they are the coolest people in the world, lebih jauh lagi; they’re Gods! Sepertinya hidup mereka itu ngga ada susahnya. IQ tinggi, terkenal, hidup berkecukupan dengan melakukan apa yang dicintainya, mabuk tak kenal waktu, dikelilingi groupie-groupie seksi dan bla bla bla fantasi-fantasi kehidupan rock star. Sepertinya mudah, gaya dan menyenangkan. Semakin lama gua semakin ingin menjadi seperti mereka.
Akhirnya, gua mulai belajar main gitar dan bikin band. Gua terus main band sampai band gua mulai dikenal orang dan mendapat pencapaian-pencapaian yang jarang bisa didapatkan band lain sejenis. Gua mulai bergaya hidup seperti rock star, yah you know lah diikuti dengan malas-malasan karena merasa sukses. Setengah jalan, gua merasa mulai sering mentok. Mengapa ketika membayangkan bikin band sepertinya koq mudah pas dijalankan koq susah ya. Padahal kalo ngga salah kan tinggal menjadi orang pintar, sedikit bakat musikal, dan boom…, jadi rock star! Ternyata tidak. Tidak begitu. Kendala demi kendala datang dan selalu berhasil membuat gua mentok. Iya, sampai suatu hari band gua kolaps ditinggal hampir semua personilnya. Gua dan seorang teman, sebagai personil yang tersisa bertekad untuk melanjutkan hidup sang band. Kami bekerja dengan sangat keras untuk membangun kembali dengan modal yang tersisa. Beberapa tahun berpikir dan bekerja keras akhirnya membuahkan hasil lagi.
Tapi suatu hari gua memutuskan untuk berhenti main band karena merasa ada missing link pada apa yang gua kerjakan. Gua melanjutkan hidup dengan bekerja di perusahaan multinasional untuk mencari pengalaman dan pergi merantau meninggalkan komunitas lama. Tiap hari gua bangun pagi, pergi ke tempat kerja, bekerja seharian penuh, dimarahi atasan, ah seperti layaknya orang normal sajalah. Setelah sekian lama bekerja dan menghadapi hidup, gua mulai sadar kalau apa yang gua inginkan, termasuk menjadi rock star, hanya bisa didapat dengan bekerja keras. Akhirnya gua memutuskan untuk berhenti bekerja untuk kembali ke kehidupan musikal dan hidup ditengah-tengah neighbrotherhood lama. Saat itu gua benar-benar yakin, bahwa masih banyak sekali yang ingin gua capai dalam hidup, yang pasti akan bisa gua capai. Tentunya dengan bekerja keras. Memang ngga bisa hanya mengandalkan tingginya IQ, karena kontribusi IQ terhadap keberhasilan hidup ternyata hanya sedikit. IQ tinggi hanya sebagai pengantar saja. Misalnya gua punya intelegensi musik yang tinggi, hal itu ternyata hanya mengantarkan gua menjadi seorang pemain band. Setelah itu ada kerja keras dan dedikasi, yang akan menjadi faktor yang mengantar seseorang pada kesuksesan, apapun bentuk kesuksesan tersebut yang gua mau. Iya, ternyata band-band idola gua tadi bukan hanya orang-orang pintar, hidup ngga karuan dan menjadi cool. Tetapi mereka bekerja dengan sangat keras untuk mencapai apa yang mereka raih saat ini. Meskipun mereka tidak masuk kantor bekerja dari jam 8 pagi 5 sore, my cool God was actually clerical juga. Tapi gua tidak pernah kecewa. They’re the coolest and they’re Gods!
- Mei 2004 -
Jika kamu suka artikel ini, mohon memberikan komentar dan berlangganan newsletter gratis dan dapatkan update ke feed reader atau ke email.

Komentar dan Diskusi
No comments yet.
Tinggalkan Komentar kamu Disini